The Movement Women’s

PROLOGUE:

Mengutip dari Telegraph dan di telusuri gerakan ini sudah ada di sepanjang jalan New York, Amerika Serikat pada tahun 1908 ketika itu ada 15 ribu perempuan berunjuk rasa menuntut hak-haknya untuk memberikan suara, pembayaran upah yang lebih baik , dan memangkas jam karyawan. 1 tahun setelah kejadian ini Amerika Serikat memperingati Hari Perempuan Nasional pada tanggal 28 Februari. Peringatan ini sesuai dengan deklarasi Partai Sosialis Amerika. Clara Zetkin ialah sosok perempuan yang menuangkan ide tentang Hari Perempuan Zetkin menyarankan agar setiap negara harus merayakan hari itu setiap tahun guna mendorong tuntutan-tuntutan mereka. Lebih dari 100 perempuan dari 17 negara di satu konferensi menyepakai saran Zetkin dan terbentuklah Hari Perempuan Internasional Dua tahun kemudian, 1913, diputuskan mengubah tanggal peringatan Hari Perempuan Internasional menjadi 8 Maret. Sejak itu Hari Perempuan Internasional diperingati setiap tanggal 8 Maret. Perserikatan Bangsa-bangsa mengakui Hari Perempuan Internasional tahun 1975

“MOVEMENT”

Banyak dari mereka melihat gerakan ini sebagai wadah terhadap “hak perempuan” di dunia, termasuk di Indonesia. Sejak ada gerakan ini suara – suara mereka satu persatu terwakilkan. Karena figure perempuan di Indonesia sering kali dipandang sebelah mata bahkan dijadikan objek seperti yang selalu ada di berita tv nasional. melihat dampak permasalahan ini sangatlah besar khususnya di kaum perempuan Indonesia sendiri yang membutuhkan suatu “concern” yang besar. Terlebih mungkin pemerintah harus lebih peka dengan adanya suatu “movement” yang dilontarkan oleh kaum perempuan. Jika kita melihat sosok perempuan di dunia kerja sudah banyak mungkin sering ditemui di tempat” kerja missal : yang menjadi atasan sosok perempuan atau yang memiliki perusaahn itu sendiri adalah perempuan, menurut pandangan masyarakat mungkin sudah adil “hak perempuan” di dunia pekerjaan, atau cuti ketika sedang proses kehamilan.

“INSPIRATIF”

Lalu apa sosok perempuan yang menjadi inspiratif itu sendiri?

Sosok perempuan yang menjadi inspiratif atau menjadi contoh bagi masyakarat lainnya, kita lihat dari hal kecil. Mandiri dalam segala aspek lalu dia punya speciality di bidangnya (apapun bidang yang dikerjakan) yang terpenting menjadi sosok yang “motivasi” untuk diri dia sendiri maupun orang sekitar nya, melihatkan sosok kepribadian yang pintar , bertanggung jawab serta jiwa kepimpinannya tinggi. Itu akan membawa pengaruh pada orang lain , dan itulah yang menjadi sosok perempuan inspiratif.

kita ambil contoh seperti Suksma Ratri yang memperjuangkan Hak Penderita AIDS  , saat pertama dia divonis mengidap penyakit mematikan yang tertular dari mantan suaminya yang merupakan pecandu narkoba itu ia sangatlah tenang menerimanya, apakah dia down? Tidak sama sekali , dia tetap kuat . Ia justru bergabung dengan sebuah LSM sebagai aktivis untuk memperjuangkan hak-hak penderita HIV/AIDS lainnya, lantas apa yang membuat ia semakin kuat memperjuangkan hak ini? Suksma Ratri berbicara soal hak-hak penderita juga mereka yang memiliki risiko besar tertular HIV/AIDS di Indonesia seperti pekerja seks, pecandu narkoba, narapidana, transgender hingga pengungsi. Mereka terabaikan haknya. Tak hanya mengalami penghakiman di lingkungan sosial, hal mereka untuk mendapatkan pencegahan juga perawatan saat terkena HIV/AIDS juga diabaikan, Suksma berbicara sebagai perwakilan dari Coordination of Action Research on AIDS and Mobility (CARAM) wilayah Asia

“EPILOG”

Pesan terakhir untuk perempuan Indonesia , jadilah apa yang kalian inginkan dengan hak kalian masing masing selama menurut kalian itu positif. Jadilah sosok perempuan yang membuat orang lain menjadi terinspirasi, ikuti kata hatimu, jadilah sosok perempuan versi kamu sendiri “be true to yourself

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp WhatsApp us